Obat Paling Ampuh untuk Kebebalan Bernama Fanatisme
Ada penyakit yang lebih sulit disembuhkan daripada flu, demam, bahkan sakit gigi. Penyakit itu adalah kebebalan yang dibungkus rasa paling benar.
Gejalanya mudah dikenali.
Ketika data utang negara meningkat, dia bilang: “Tidak masalah, kan buat pembangunan.”
Ketika ditanya efektivitas pembangunan, dia menjawab: “Lihat tuh jalan tol, bandara, pelabuhan.”
Ketika ditanya manfaat nyata bagi rakyat kecil, dia marah dan menuduh orang lain buta.
Ketika diajak melihat dampak jangka panjang, dia langsung mengganti topik dengan menyalahkan tokoh lain di masa lalu.
Jika sudah sampai tahap ini, banyak orang bertanya: apa obatnya?
Jawabannya sederhana: kejujuran intelektual.
Sayangnya, obat ini pahit dan banyak yang menolaknya.
Orang yang fanatik biasanya hanya mau melihat hasil yang sesuai dengan keyakinannya. Kalau ada jalan tol baru, itu dianggap bukti keberhasilan mutlak. Tetapi ketika ada pertanyaan soal beban utang, kualitas proyek, pembengkakan anggaran, atau manfaat ekonomi jangka panjang, telinganya mendadak tertutup.
Padahal dalam negara, pembangunan bukan sekadar soal membangun sesuatu yang terlihat megah di foto drone.
Bandara kosong tetap harus dirawat.
Jalan tol sepi tetap punya biaya.
Proyek ambisius tetap dibayar rakyat melalui pajak, subsidi yang berkurang, atau beban fiskal jangka panjang.
Infrastruktur bisa menjadi berkah jika dibangun dengan perencanaan matang.
Namun bisa menjadi monumen ambisi jika dibangun hanya demi pencitraan.
Lucunya, sebagian orang menganggap kritik terhadap kebijakan berarti membenci negara.
Padahal justru sebaliknya.
Kritik lahir karena ada kepedulian agar negara tidak salah arah.
Kalau semua orang hanya tepuk tangan tanpa evaluasi, itulah awal kehancuran.
Bangsa besar tidak membutuhkan warga yang selalu berkata “iya” pada penguasa.
Bangsa besar membutuhkan rakyat yang mampu berpikir jernih, adil, dan berani mengakui fakta meski pahit.
Jadi kalau masih bertanya apa obat untuk kebebalan?
Cobalah resep berikut:
Minum 2 sendok data setiap pagi
Konsumsi fakta sebelum berkomentar
Kurangi overdosis fanatisme politik
Istirahat dari propaganda media sosial
Perbanyak membaca sejarah secara utuh
Jika masih belum sembuh?
Mungkin bukan kurang obat.
Mungkin memang terlalu nyaman hidup dalam ilusi bahwa tokoh idolanya selalu benar.
Dan itu, sayangnya, jauh lebih sulit disembuhkan.